HANISA

Just another Blogdetik.com weblog

Sudah Cinta Tuuuuh

Cinta…. sayang…. datang begitu saja, disadari atau tidak perasaan itu menimpa yang berusia lanjut, dewasa bahkan ABG.

Wanita seumuran 25 tahun, tetangga baru yang sering menyapa saya, dia sering membawa kedua anaknya ( Vero 3 th & Valensia 2 th) jalan-jalan di sekitar.
Pada lain kesempatan, seorang pria sekitar berumur 65 tahun membawa Valensia, anak bungsu dari wanita tersebut lewat di depan rumah. Tak lama datang wanita menanyakan anak bungsunya, yah saya bilang tadi pergi ke arah sana dengan kakeknya… duh nebaknya pede lagi. Cengar-cengir wanita itu menjawab bahwa bukan kakeknya tapi papinya. Saya masih mempertahankan pendapat saya bahwa anak tadi dibawa sama Bapak usia lanjut. Wanita itu malah tertawa lepas dan menjelaskan bahwa bapak tersebut adalah papinya alias suaminya. Sudah salah ngotot lagi ya … he he he.

Ada juga wanita seumuran 20 tahun, mau saja menikahi kakek yang sudah mempunyai cucu 4 orang. Istri-istrinya yang 3 orang sudah dicerai. Memang sih kakek itu kaya, mempunyai 6 kontrakan, 1.000 m2 tanah di Studio Alam, Depok, mempunyai Toko Bahan Bangunan … Saya suka geli sendiri manakala kakek menggendong bayinya yang baru berumur 4 bulan.

Poligami … sudah biasa, istri 2, istri 3, tapi poliandri jarang ditemui. Depan rumah saya, ada poliandri dengan 2 suami dalam satu atap. Suami pertamanya orang pribumi dan suami keduanya orang jepang. He…he … kalau poliandri gitu, bagaimana hukumnya ya, apakah dia juga harus adil dalam pembagian “jatah”, wah … harus banyak minum jamu kuat nih.

But Anyway, Cinta karunia, apa jadinya dunia tanpa cinta, banyak bunuh-bunuhan lagi .. tapi jangan mau-maunya diperbudak oleh Cinta, Cinta buta lagi. Embat Istri oranglah, Suami oranglah … semuakan sudah ada aturannya. Asalkan tidak ada yang dirugikan akibat Cinta.

Tetangga oh tetangga

Bicara masalah hutang-piutang seperti membicarakan aib seseorang. Jangankan hubungan antar kawan ataupun bertetangga bahkan persaudaraan akan retak hanya karena hutang-piutang.

Saya sering mengalami hal yang tidak mengenakan ini secara saya tidak tega menolak orang untuk berhutang.
Pada awalnya tetangga saya tepat waktu melunasi dan untuk pinjaman sekian,pada waktu dia harus bayar eh.. dia menghilang (pindah rumah kok ngga pamitan,hilang deh uang saya). Biar deh…hitung2 amal.

Ada tetangga wanita tua datang ke rumah,dengan mimik sedih minta pinjaman uang untuk (katanya sih?) berobat cucunya ke dokter,duh hati saya kok jadi sedih teringat anak2 saya deh. Lalu saya penuhi permintaan ibu tersebut, beliau janji gajian bulan depan anaknya pinjaman tersebut akan dibayar. Setelah waktu yang dijanjikan tiba,uang pinjaman si ibu tidak kunjung diantarkan,hingga bulan berikutnya saya utus pembantu saya untuk ambil. O .. la … la dia bilang belum ada, setiap ketemu saya pasti ngumpet, pokoknya segala cara deh dia menghindar ketemu saya (takut di’tembak hutangnya) berbulan2 baru saya denger bahwa si ibu itu diusir dari rumah yang dikontrak 3 bulan nunggak..oh pantas,sekarang apa daya, tak pantas toh menagih hutang disaat orang susah…hilang lg uang saya (hmm.anggap amal deh..).

Ketika putra kedua saya lahir, saya memang tidak ahli dalam memandikan bayi sebelum ari2nya terputus dengan pusarnya,saya minta tolong tetangga saya yg berprofesi sebagai dukun beranak untuk memandikan putra saya selama sebulan.
Ibu ini juga yg mengurusi perhelatan gunting rambut putra saya, saya sudah menganggap beliau ibu saya, saya berikan apapun tanpa pamrih. Awal-awal mandikan bayi si ibu minta dibayar setengah dahulu,setelah selesai pelunasannya.
Bagi saya bukan masalah. Setelah sebulan memandikan putra saya,beliau mulai berani pinjam uang..
Dengan dalih tidak tega saya berikan dan berjanji untuk membayar bulan depan. Pelunasan hutang dibayar on time,demikian pula 3x hutang berikutnya.
Nah ini yang terakhir beliau pinjam uang suami saya, padahal hutang dengan uang saya belum dikembalikan…duh nekat ya.

Keesok harinya dengan tergopoh-gopoh dan raut wajah memelas datang ke rumah saya perlu pinjaman lagi…dan memang saya tidak pegang uang yang dipinta,dengan perasaan tidak menentu saya buka celengan putri pertama saya,dan saya berikan uang celengan tsb.
Uang suami sudah dilunasi,tinggal uang saya dan putri saya yg blom dilunasi. Janjinya awal bulan juli 2007 hingga kini. Saya menagih sudah berulang-ulang kali dengan lemah lembut tapi oh again i can’t take our money back.
Sampai saya putus asa dan tidak menagih kembali.
Akhirnya saya mendapatkan pelajaran akibat perasaan saya yang gampang tersentuh. It’s not just money, it’s all about trust!!.

Anehnya lagi ada beberapa tetangga yang hendak pinjam uang dan tidak saya berikan,yang mulanya bersikap manis berubah drastis menjauhi saya.

Apakah berteman atau bertetangga dilandasi dengan pinjaman uang,oh…tak tau lagi harus bagaimana.